Hari Minggu 13 Agustus sekitar jam 3.30 pagi saya menembus gerimis menuju halte untuk menunggu night bus yang akan membawa saya ke Charing Cross station, ganti N9 menuju Heathrow Central. Saya sampai di terminal 1 Heathrow sekitar 2 jam sebelum flight pukul 7.50 pagi, padahal di print out e-ticket penumpang international flight diharapkan check-in 3 jam (ya, tiga jam) sebelum penerbangan. Dan seperti yang saya kuatirkan, antrian penumpang udah keliatan panjaaaang banget, sampai ke lapangan parkir. Duh!
Saya antri dengan ratusan penumpang lain. Tapi nggak disangkal, selama ngantri saya gelisah nggak keruan. Gimana nih, kan mesti check-in paling nggak jam 6, tapi kalau ngikut antrian yang bergerak sangat lambat ini bisa-bisa sejam lagi juga baru sampe pintu masuk bandara. Tiba-tiba saya melihat 3 orang perempuan berseragam berjalan melintasi antrean. Insting saya bilang, ikuti aja mereka, pasti mereka tau jalan lain masuk ke bandara tanpa harus mengikuti antrean ini. Yup, sedikit nekat, saya keluar dari antrian dan membuntuti mereka. Benar saja, mereka memotong lapangan parkir dan langsung menuju pintu masuk. Yihaaa…
Lho, tapi persis di depan pintu masuk bandara mereka belok, nggak masuk. Tinggallah saya bengong di depan pintu bertuliskan ‘Premium Entrance’ itu. Walah! Tiket saya kan kelas ekonomi saja, mana bisa masuk lewat pintu berlabel premium ini. Yang bikin jantung lebih deg-degan saya lihat 2 orang petugas bertampang serius menjagai pintu ini tengah beradu mulut dengan calon penumpang yang tampak kecewa. Gimana nih?
Saya berdiri aja di pintu masuk itu, lihat kanan-kiri dan mencuri dengar perdebatan petugas dengan calon penumpang pria berusia 50an tahun.
Calon penumpang: When is the next flight to Aberdeen?
Petugas : (melihat kertas di tangannya) Tomorrow, at 11.
Calon penumpang: What? I don’t want to spend the night at the airport…
Petugas: (dgn tampang dingin) Then book yourself a hotel.
Alamaaak… kalau saya di posisi bapak itu, kepala saya pasti sudah berasap!
Eh, pandangan saya menangkap 4 orang yang seumuran saya berjalan ke arah pintu masuk sambil ngobrol satu sama lain. Ding ding… sebuah lonceng kecil berbunyi dalam kepala saya, dengan instruksi, “Ikuti mereka, sekarang!” Oke deh, saya pede aja menempel seolah-olah bagian rombongan anak-anak muda ini. Tentunya di deretan paling belakang dooong… Hanya orang paling depan saja yang diperiksa tiketnya, sisanya boleh masuk. Fuuiih! Legaaaa rasanya bisa masuk bandara tanpa membuang waktu untuk antri. Berikutnya, saya sibuk menghibur diri bahwa saya toh nggak motong antrean, cuma cari jalan lain untuk masuk lebih cepat… kalo nggak ntar ketinggalan pesawat. Jadi boleh dong yaaa…
Di depan counter check in tiap maskapai, teteup… antrean lagi!! Panjang lagi, uler-uleran lagi! Dwoh!! Ya udah, saya pikir, “Don’t push your luck, girl! Kali ini ngantri aja dengan manis.” Oke, masuk ke barisan di depan counter BA utk international flight ke Eropa. Sudah jam 6.10 dan ada sekitar 40an orang di depan saya. Masih amanlah.
Peringatan standar keamanan baru yang gencar diumumkan media Inggris rupanya membuat sebagian penumpang well-prepared. Mereka membawa sendiri kantong plastik transparan sesuai aturan. Misalnya pasangan yang antre di belakang saya. Mereka kompak membawa sepasang tas dari plastik tebal transparan, modelnya mirip tote bag dengan resleting warna merah! Ahaaai… manisnya!
Meski tidak se-well prepared itu, tapi paling nggak saya well informed. Semua barang kecuali dompet, paspor dan e-ticket sudah masuk ke ransel utk dibagasikan. Padahal ini ransel ukuran sedang yang biasa saya bawa di kabin lho…
Di check-in counter, petugasnya meminta saya mengeluarkan semua isi kantong jeans dan meletakkannya di meja counter. Saya lalu di beri tas plastik transparan dan polos, yak, tas kresek gitu deh, dan diminta memasukkan barang-barang saya kedalamnya. Sesudah urusan tas kresek ini rapi, barulah saya diberi boarding pass.
Masih ada 2 titik pemeriksaan barang bawaan sebelum sampai di titik pemeriksaan imigrasi (paspor dan visa). Menjelang titik pemeriksaan barang pertama, apalagi kalau bukan antrian. Untung ‘hanya’ 20an orang di depan saya. Selagi antri, seorang petugas berjalan mondar-mandir di sepanjang samping antrian sambil berseru: “No lipstick, no lip gloss, no lip balm, no pen, no pencil, no cigarette, no lighter, no matches, no books, no magazine, no gum, no all kinds of sweets, no water, no drink!” sambil menenteng kantong plastik tempat sampah.
Penumpang yang masih membawa barang yang disebut dalam 'DAFTAR NO' itu harus membuangnya dalam kantong sampah yang dibawa si petugas. Seorang perempuan muda dengan cemberut membuang sebungkus Marlboro putih dan lighternya. Seorang bapak di depan saya dengan muka pasrah ‘membuang’ fountain pen-nya! Oh! Padahal pulpen berwarna silver dengan ukiran bunga mungil itu keren lhooo…
Yak, tibalah security check terakhir, yang pakai metal detector gate itu. Tariiik maaaang… sekali lagi antri. Dua meter menjelang metal detector gate, seorang petugas membagikan kotak plastik yang mirip keranjang cucian dan calon penumpang diminta meletakkan tas kresek serta benda apapun yang menempel di badan kedalam kotak ini. Segeralah penuh kotak-kotak ini dengan jam tangan, gelang, kalung, cincin, jaket dan… sepatu! Yak, calon penumpang harus buka jaket, topi, sweater dan sepatu… jadi lewat detector gate itu benar-benar hanya mengenakan top & pants/skirt aja. Nggak tau deh gimana kalau pake kerudung. Masa iya disuruh copot juga? Saya tengok kanan-kiri sayangnya nggak ada penumpang perempuan yang berkerudung.
Menjelang detector gate, tiba-tiba suara tawa beberapa orang terdengar di belakang saya. Oalaaah… ternyata pria di belakang saya baru saja mencopot sepatunya dan kedua kaos kakinya bolong di bagian jempol!!! Pantes…
Lalu prosedur standar, lewat detector gate dan seorang petugas perempuan meraba seluruh tubuh dari bahu sampai mata kaki saya. Untung dia melakukan tugasnya dengan sangat cepat. Kalo nggak kan geli juga bo!
Kelar segala pemeriksaan ini, sudah jam 7.10 jadi 40 menit lagi berangkat. Liat monitor status penerbangan, alamaaak! Setengah dari flight pagi itu statusnya CANCELED! Untung status flight saya OK. Tapi kok belum disebutkan mesti menuju gate nomer berapa? Hmm.. ya tunggulah. Mungkin nanti 30 menit menjelang jam berangkat baru dikasih tau gate-nya. Oke deh. Beli Total Film dan duduk manis menunggu. Tiba-tiba udah jam 7.35, saya melongok ke monitor belum juga disebut gate-nya! Hadoh! Jadi berangkat nggak neh?
Eh, ternyata jam 7.40, yak, hanya 20 menit sebelum terbang, baru ketahuan kita mesti menuju ke gate 37! Padahal gate ini jauh juga bo… yah jalan cepat deh! Masih untunglah nggak dicancel. Hehehe… Meskipun saya terhitung lancar melalui semua titik pemeriksaan (dan antriannya) tetep saya berdoa sepenuh hati, semoga prosedur ini benar-benar segera dihentikan dan kembali seperti dulu. Soalnya, sumpah deh, sama sekali nggak efisien dan melahkan!
Recent Comments